4 Kebiasaan Orang Kaya Dalam Pengeluaran

Waktu kecil saya suka heran kenapa kakak saya meski boleh dibilang cukup sejahtera tetap menjaga pengeluarannya.

Cukup lama bagi saya untuk menyadarinya bahwa ternyata kekayaan tidak boleh diimbangi dengan gaya hidup. Karena seberapa besar pun pendapatan yang kita peroleh akan menjadi sia-sia.

Ada 4 macam kebiasaan orang kaya yang saya amati selama ini.

1. Mereka tidak beli dalam kondisi emosi.

Ketika sedang emosi kita akan termudah bujuk rayu salesman. Siapa yang tidak pernah? Bahkan saya juga pernah mengalami kejadian demikian.

Orang kaya umumnya lebih pintar mengontrol emosi. Mereka tidak mudah terbujuk kata diskon, limited, hanya hari ini, dan kalimat-kalimat marketing lainnya. Men-delay respon merupakan cara terbaik. Karena berpisah dengan uang jauh lebih mudah dibanding mendapatkannya kembali.

2. Orang kaya suka promo.

Semua orang suka diskon dan promo. Orang kaya pun juga demikian. Bedanya setelah langkah pertama, mereka mengkalkulasi apakah barang tersebut benar-benar promo atau tidak.

Karena banyak sekali gimmick marketing dimana barang dicap promo padahal harganya sama saja. Istri saya sendiri pun juga pernah mengeluhkan event midnight sale yang  ternyata harganya tidak jauh berbeda.

Jadi riset dan cari tahu terlebih dahulu apakah barang/jasa tersebut benar-benar promo atau tidaknya.

 3. Orang kaya suka kualitas.

Kalau berbicara soal barang-barang mahal, orang kaya suka membeli barang berkualitas. Dengan harapan barang yang mereka peroleh juga tahan lama.

Contohnya adalah furniture. Furniture yang tahan lama dapat diwariskan ke anak kelak. Untuk barang yang memang penting dalam hidup, beli yang berkualitas. Jaga dan rawat barang tersebut, sehingga kita membelinya cukup sekali.

4. Orang kaya tidak suka berhutang.

Mereka menghindari hutang seperti halnya orang menghindari penyakit. Kunci menjadi kaya dan tetap kaya adalah bebas dari hutang.

Mereka lebih suka membayar langsung ketimbang kredit. Jikalau memang belum sanggup mereka tidak memaksakannya. Jauh berbeda dengan pola konsumerisme yang umumnya membeli barang secara kredit.

Mudah? Hehehe…. Itu tergantung pengalaman masing-masing individu. Seiring dengan jam terbang kita mulai akan semakin terasah. Yang pasti nomor satu adalah hindari hutang. Jangan pernah memaksa untuk membeli barang yang kita tidak mampu.  Kalau kata jaman dahulu jangan lebih basar pasak daripada tiang.

Salam,

Indra Sjuriah

Comments are closed.

WhatsApp chat