“Pahami perbedaan antara kebutuhan dan keinginan.”

 

Banyak anjuran menyebutkan dalam berbagai versi tentang nasihat ini. Anjuran yang yang merupakan kunci untuk mengendalikan pengeluaran Anda. Bila Anda tidak bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan, anda akan terus menerus mengikuti rasa keinginan anda dan akan terjebak ke dalam kemubaziran belanja yang tak habis-habis.

Archie mengingat-ingat pertanyaan ibunya, “Buat apa itu?!” setiap kali dia membeli apa saja ketika masa kanak-kanaknya. Saat itu terdengar menyebalkan. “Tapi sekarang aku mendengar suaranya itu di kepalaku setiap kali saya akan membelanjakan uang. Dan ini yang membuat saya bisa berhenti membeli banyak barang remeh temeh yang sebenarnya saya tidak memerlukannya” kata Archie.

Ibunya Jenny melakukannya dengan cara lain. Dia akan berkata seperti ini: “kamu membutuhkan makanan. Tapi kamu menginginkan ‘prime rib’”. Itulah contoh sempurna untuk menyelesaikan perdebatan tentang bedanya kebutuhan dengan keinginan.

Clara berkata bahwa dia mendengar nasihat yang sama dari neneknya.

Ketika saya masih muda, dan setiap kali saya akan mengeluh tidak memiliki pakaian yang keren atau yang model terbaru atau apa pun yang saya keluhkan, nenek saya selalu berkata “Kita sudah memiliki semua yang kita butuhkan dan juga sebagian besar dari apa yang kita inginkan” Petuah itu membuat saya sadar, bahwa meskipun kami bukan keluarga yang terkaya di kota, tetapi kami sudah punya banyak barang.

Sampai hari ini aku masih memakai nasehat itu ketika muncul nafsu belanjaku terhadap berbagai pernak-pernik mahal yang aku lihat di mal. Saya lantas bisa berfikir dan mengingat bahwa saya sudah memiliki tempat tinggal, punya makanan dan banyak hal yang saya inginkan serta memiliki keluarga yang hebat. Saya pun lalu menaruh kembali barang-barang itu di raknya kemabli dan kemudian berjalan pergi dengan perasaan puas dengan apa yang sudah saya miliki.

Bayangkan biaya seluruhnya

Apa pun yang ingin anda beli selalu melibatkan Yang namanya biaya. Label harga adalah awalnya.

“Aku melihat sesuatu yang akan terlihat bagus kalau ditaruh di meja saya”, Mamanya Sita bercerita. “Lalu aku membayangkan harus mengeluarkan sejumlah uang uang untuk barang itu. Padahal fungsinya Cuma untuk dilihat, tidak ada manfaat lain. Lalu aku memikirkan semua waktu dan energi yang saya harus sediakan untuk merawat dan membersihkan barang itu, menjaganya oprekan anak-anak, dan lain-lain. Belum lagi pekerjaan mengepak itu dan mengangkutnya nanti kalau saya akan pindah. Mengorbankan waktu, tenaga, dan biaya seluruhnya karena memiliki barang tersebut terlalu mahal bagi saya. ”

Beli kualitas

Sally Herigstad tahu bagaimana rasanya hidup dengan anggaran ketat. Sebelum ia menjadi seorang akuntan publik bersertifikat dan menjadi penulis, ia adalah seorang ibu rumah tangga sepenuhnya. Pada suatu saat ia pernah ‘kabur’ dari panggilan agen penagihan. Pengalaman ini dia ceritakan dalam bukunya, “Help! I Can’t Pay My Bills: Surviving a Financial Crisis.”

Ia dan suaminya membangun kembali keuangan mereka, dan ia pun teringat nasihat ibunya untuk membeli kualitas ketika membeli barang-barang

“Ibuku dapat memegang atau menyimpan uang lebih lama dari orang-orang lain yang aku kenal, itu bukan berarti dia tidak pernah membeli barang-barang bagus. Ibu mengajarkan kita untuk membeli barang-barang berkualitas tinggi di toko-toko yang menjamin apa yang mereka jual. Dengan begitu, jika barang-barang yang dibelinya rusak atau atau berhenti berfungsi sebelum waktunya, ia tahu ia bisa meng’klaim’nya kembali – dan itu sering ia lakukan. Anda benar-benar menghemat uang dengan membeli barang-barang berkualitas tinggi dibandingkan dengan mendapatkan barang-barang murah dan lalu anda harus membuangnya dalam waktu singkat. ”

Jangan lebih besar pasak dari pada tiang

Bayu menulis bahwa kakeknya sering mengutip nasihat ini. Ini cara lain untuk mengatakan, “Hiduplah sesuai kemampuan Anda,” atau, lebih rumit, “Hati-hati untuk menambah beban baru ke atas beban lain yang sudah anda punyai.”

“Jadi aku selalu bertanya pada diri sendiri, apakah saya membelanjakan uang lebih banyak dari penghasilan yang bisa aku peroleh?” Tulis Bayu. “Jika iya, saya pun berhenti dan berbalik arah, karena hal itu tidak boleh dilanjutkan.”

[sumber: artikel Liz Pulliam Weston di articles.moneycentral.msn.com; foto: sheconomics.blogspot.com]

 

 

 

Comments are closed.

WhatsApp chat