Dear mbak Teja,

Saya lajang berusia 29 tahun. Menyambut tahun baru, saya punya resolusi, Mbak. Termasuk dalam hal finansial. Agar tahun depan, saya bisa lebih terencana dan disiplin dalam mengelola keuangan. Saya mulai sadar bahwa perasaan gaji selalu kurang itu sebenarnya berasal dari kebiasaan buruk saya mengelola uang.

Nah. Saya mau minta tolong untuk dibuatkan panduan menuju keuangan yang lebih sehat, ya, Mbak. Apa saja sebenarnya rambu – rambu dalam mengelola keuangan, termasuk tentang pemasukan, pengeluaran, utang hingga besar tabungan atau investasi. Berapa besar sebenarnya kita boleh mengambil utang dan lainnya. Jujur, saat ini saya belum berinvestasi dan ingin memulai tahun depan.

Gianti – Jakarta

Resolusi tahun 2015 Anda sudah bagus sekali, yakni lebih terencana dan disiplin dalam mengelola keuangan. Tidak mudah memang, tapi, kalau kita punya niat yang kuat, pasti bisa berjalan dengan baik. Hampir sebagian besar dari kita selalu merasa bahwa gaji yang kita terima selalu kurang. Padahal, berapapun gajinya, kalau kebiasaan kita dalam mengelola uang tidak baik, maka tidak akan pernah ada gaji cukup. Akhirnya, selalu merasa kurang.

Menyadari kelemahan yang kita miliki selama ini dalam mengelola keuangan adalah langkah awal yanag tepat. Dengan cara ini, kita bisa tahu kalau ada yang salah dengan kondisi keuangan saat ini dan itu harus diperbaiki. Apa saja rambu – rambu untuk memiliki pengelolaan keuangan yang sehat?

Pengeluaran : Pemasukan

Perhatikan perbandingan antara pengeluaran dan pemasukan. Yang pasti, jumlah pengeluaran kita tidak boleh sampai lebih besar dari pemasukan. Pasalnya, bila yang terjadi adalah pengeluaran lebih besar dari pemasukan, kita akan membayar sisa kebutuhan dengan cara mengambil dari tabungan atau berutang. Dua – duanya adalah langkah yang tidak baik. Ayo, kita buat daftar pengeluaran bulanan, pastikan pengeluaran tidak lebih besar dari penghasilan. Kalau sudah melebihi, seleksi lagi bagian mana yang harus dikurangi. Utamakan mengurangi pos utang konsumtif dan pengeluaran pribadi.

Utang 30%

Cicilan mungkin sulit dihilangkan, maka tidak  apa – apa bila anda masih memiliki pengeluaran untuk membayar cicilan, namun, perlu diingat, menyicil pun harus diperhitungkan masalah pembayarannya kelak. Kuncinya, cicilan utang tidak boleh lebih besar dari satu per tiga gaji.

Pasalnya, bila cicilan utang kita besar, efeknya akan berpengaruh pada kebiasaan menabung. Sebagian besar uang akan digunakan untuk membayara cicilan dan dipastikan akan sulit mengalokasikan dana untuk menabung. Maka bila anda mendapat gaji bulanan sebesar Rp10 juta misalnya, maka total cicilan utang sebaiknya tidak lebih besar dari Rp3 juta.

Bayarlah utang saat menerima gaji, jangan terbiasa untuk menunda-nunda yang satu ini. Pasalnya, menunda pembayaran utang akan membuat kita lupa untuk membayarnya atau bahkan uangnya terpakai habis untuk keperluan lain yang tak begitu penting. Ubah lah tanggal pembayaran kartu kredit agar mendekati tanggal pengiriman gaji, sehingga kita dengan terpaksa melunasinya segera.

Investasi 10%

Inilah kebiasaan baik yang harus mulai rutin dilakukan setiap bulan. Sisihkan dana untuk tabungan dan investasi, setidaknya sebesar 10 persen dari penghasilan bulanan. Lakukan sistem sisih di awal bulan atau langsung alokasikan setelah menerima gaji. Jika perlu, buatlah sistem debet otomatis dari rekening gaji ke rekening tabungan lain. Dengan cara ini praktis kita terbantu untuk menabung secara otomatis.

Selain itu, berinvestasi juga harus dilakukan. Jika Anda sudah memiliki tabungan yang tak akan terpakai sejumlah satu kali pengeluaran bulanan, mulailah alokasikan juga dana per bulan untuk produk investasi aman. Emas dan reksadana adalah contoh produk investasi yang bisa dimiliki dengan mudah.

Utang Baik VS Utang Buruk

Berutang memang tak selamanya buruk, namun juga tak selamanya baik. Sebelum berutang, sebaiknya pahami dulu apakah itu utang baik atau utang buruk.

Utang Baik

Utang baik akan memberikan manfaat, yaitu meningkatnya nilai aset dari barang yang kita beli dengan berutang. Membeli rumah atau apartemen adalah salah satu contoh utang baik. Sejalan dengan waktu, nilai rumah dan apartemen yang kita punya akan terus naik, sehingga bisa memberikan keuntungan. Membeli kendaraan yang bisa kita sewakan dengan cara kredit, juga termasuk contoh utang baik. Walaupun nilai kendaraannya turun, tapi kendaraan tersebut bisa menjadi aset yang memberikan penghasilan tambahan.

Utang Buruk

Sementara utang buruk adalah sebaliknya. Ia tidak memberikan manfaat bagi pengembangan nilai aset kita. Contohnya, membeli barang konsumtif, sebagian besar akan masuk dalam kategori utang buruk. Ini karena barang konsumtif umumnya memiliki nilai jual yang semakin lama semakin jatuh. Ditambah dengan bunga dari utang yang dikenakan, akan menambah besar kerugian kita. Hati – hati apabila kita berutang dengan kartu kredit. Sebaiknya, lunasi segera saat jatuh tempo. Kalau tidak, bunganya yang tinggi bisa merusak dompet kita, loh.

Lakukan segera

Mengubah kebiasaan buruk menjadi baik perlu tenaga ekstra dan fokus. Jangan tunggu lebih lama lagi, lakukan sekarang. Hati – hati dengan godaan yang terkadang membuat kita lupa. Ingatlah, kalau tidak dimulai sekarang, maka kerugian karena keuangan yang buruk, akan membuat kita terpuruk lebih dalam lagi. Yuk, mulai dari sekarang.

Tejasari CFP ®

Nova 1399/XXVII 15 -21Desember 2014

Comments are closed.

WhatsApp chat