Dalam hidup, kita harus selalu memiliki rencana B, C bahkan D. Jangan tunggu sampai hal buruk terjadi sebelum benar-benar memikirkan masa depan keuangan kita. Mari buat rencana Anda bersama Tejasari Asad, CFP.

Tentu kita pernah mendengar kata-kata : “Manusia boleh berencana, Tuhan yang menentukan”. Menyadari hal tersebut, biasanya kita selalu membuat “back up plan” dari setiap rencana yang dibuat, untuk menjaga di luar hal-hal kemampuan. Tanpa sadar, hal ini juga selalu dillakukan kalau kita membuat anggaran keuangan. Secara otomatis, kita akan membuat alokasi dana cadangan saat kita rekreasi misalnya, atau saat kita menghitung anggaran pesta, bahkan dalam catatan pengeluaran bulanan yang kita buat, selalu ada anggaran “dana lain-lain”.

Akan tetapi, saat musibah yang terjadi cukup besar dan mempengaruhi keuangan keluarga, maka kita tidak bisa hanya mengandalkan dana cadangan atau dana lain-lain. Butuh rencana dari awal untuk bisa memberikan proteksi.

Setiap musibah, walaupun tidak bisa dihindari, memiliki jalan keluarnya tersendiri. Kalau bisa menyiasati dari awal, maka akibat buruk yang ditimbulkannya, semoga tidak membuat kita jadi bangkrut. Apa saja kejadian fatal dalam hidup kita yang bisa kita sebut “musibah” dan dapat mengganggu kondisi keuangan keluarga? Pasangan hidup meninggal, bisnis bangkrut, dipecat dari pekerjaan, orangtua sakit keras, cacat total karena kecelakaan, terkena penyakit kritis. What’s your back up plan?

PASANGAN HIDUP MENINGGAL

Selain kesedihan karena ditinggalkan pasangan, kesedihan lainnya adalah karena kita kehilangan pencari nafkah dalam keluarga. Tentu saja hal ini sangat terasa apabila pasangan hidup kita adalah pencari nafkah utama. Tidak pernah berharap akan terjadi, tapi kita perlu mempersiapkannya dari sekarang. Apa saja yang harus kita siapkan untuk mengatasi kemungkinan terjadinya kondisi ini?

>>ASURANSI JIWA UNTUK PEMBERI NAFKAH UTAMA UNTUK PEMBERI NAFKAH UTAMA

Dalam sebuah keluarga, sang pemberi nafkah utama harus selalu dilindungi dengan sebuah asuransi jiwa. Itulah sebabnya uang pertanggungan asuransi jiwa yang dimiliki harus mampu menggantikan besarnya penghasilan yang biasanya didapatkan. Sempurnanya, uang pertanggungan tersebut dapat ditempatkan di deposito, dan bunga  yang dihasilkannya sama dengan besarnya penghasilan bulanan keluarga. Dengan begitu, penghasilan keluarga dapat terlindungi untuk jangka waktu panjang.

Bagaimana cara menghitungnya? Tentu saja terdapat beberapa teori perhitungan, tetapi secara sederhana dapat menggunakan rumus sebagai berikut : Kalikan penghasilan pasangan dengan 12 menjadi penghasilan tahunan dan kalikan dengan 20.

Contoh :

Penghasilan tahunan : Rp 10 juta x 12 : Rp 120 juta

Uang pertanggungan : Rp 120 juta x 20 = Rp 2, 4 miliar

Apabila terdapat penghasilan tahunan misalnya bonus dan THR, tambahan dalam perhitungan penghasilan tahunan.

Jumlah Rp 2,4 miliar adalah uang pertanggungan yang akan diberikan oleh pihak asuransi. Apabila uang ditempatkan dalam deposito dengan bunga sebesar 5% per tahun (tidak memperhitungkan pajak) dapat memberikan Rp 10 juta per bulan.

Tentu  saja uang pertanggungan ini cukup besar, sehingga premi asuransi yang harus dibayar menjadi tinggi. Pilihlah asuransi jiwa jenis “termlife” yang dapat memberikan uang pertanggungan cukup tinggi dengan premi yang relatif murah. Kelemahan dari asuransi jiwa jenis ini adalah uang premi yang dibayarkan tidak kembali.

>>LINDUNGI HUTANG YANG DIMILIKI

Apa saja hutang yang dimiliki keluarga saat ini? KPR (kredit rumah), KPM (mobil), kartu kredit, KTA, hutang tentu saja harus dilunasi. Apabila pasangan hidup kita meninggal, maka beban ini akan menjadi beban keluarga. Bagaimana menyiasati masalah ini?

  • Hutang kartu kredit

Walaupun memiliki perlindungan asuransi yang preminya harus dibayar berdasarkan saldo terhutang, hutang kartu kredit sebaiknya tidak perlu dimiliki. Bunga kartu kredit yang cukup tinggi ditambah lagi dengan premi asuransi, akan terus membebani kita. Sudah, lunasi saja segera hutang kartu kredit ini dan jangan biarkan membebani keuangan kita.

  • KPR, KPM, KTA

Hutang ini juga memiliki asuransi jiwa bagi pemilik kredit. Perhatikan, bahwa asuransi jiwa tersebut sebaiknya atas nama pemberi nafkah utama, yang biasanya adalah pasangan hidup kita. Artinya, apabila pasangan hidup kita meninggal maka hutang tersebut lunas dan tidak membebani keluarga selanjutnya.

  • Soft loan kantor, hutang keluarga dan hutang lainnya

Hutang – hutang ini umumnya tidak dilindungi dengan asuransi jiwa. Sehingga bila pasangan hidup kita meninggal, otomatis kita harus melunasinya. Kalau hutang kantor kemungkinan bisa ditutup dengan sangon dari kantor, hutang keluarga dan hutang lainnya tentu saja harus dibayar dengan dana yang dimiliki. Sebaiknya jaga agar hutang yang tidak dilindungi oleh asuransi seminimal mungkin, sehingga tidak memberati keluarga yang ditinggal.

BISNIS BANGKRUT

Selain memiliki risiko yang besar, memiliki bisnis juga menuntut kita untuk bisa memisahkan antara keuangan keluarga dan keuangan bisnis. Untuk yang berbisnis sebagai sampingan, tentu saja kebangkrutan sebuah bisnis tidak menjadi masalah utama dalam keuangan keluarga. Dalam kondisi ini, kita hanya kehilangan modal yang telah ditanamkan. Akan tetapi, apabila kegiatan bisnis ini memberikan penghasilan utama dalam keluarga, bangkrutnya sebuah bisnis artinya kehilangan nafkah bagi keluarga. Di samping itu, bisnis juga bisa membawa masalah dalam keluarga apabila ternyata kita harus menanggung kerugian yang terjadi dalam bisnis. Apabila kita mempunyai bisnis, coba perhatikan hal ini:

>>BENTUK BISNIS

Bentuk bisnis yang terbaik adalah dalam bentuk PT (Perseroan Terbatas). Dengan badan hukum ini apabila terjadi masalah dengan bisnis dan terjadi kebangkrutan, keuangan keluarga tidak terseret, kerugian hanya sebatas modal yang ditanamkan, Berbeda dengan bentuk lainnya seperti perseorangan, CV, Firma ataupun persekutuan, apabila terjadi kerugian, maka harta pribadi bisa terbawa, sehingga keuangan keluarga bisa kacau balau.

>>DANA DARURAT

Risiko berbisnis adalah kita bisa kehilangan seluruh modal yang ditanamkan. Untuk memulainya kembali juga memerlukan waktu yang tidak cepat. Oleh karena itu, sangat disarankan untuk memiliki dana darurat minimal sebesar 12x biaya bulanan. Artinya, kita memiliki waktu minimal satu tahun untuk bisa mengembangkan bisnis yang baru atau mengembalikan bisnis menjadi menguntungkan kembali.

>>PENGHASILAN LAIN

Pertimbangkan untuk memiliki penghasilan lain dalam keluarga yang tidak tergantung pada satu bisnis.Tentu saja penghasilan ini  tidak boleh mengganggu konsentrasi kita pada bisnis utama. Dengan cara lain, apabila bisnis kita mengalami kebangkrutan, maka setidaknya penghasilan keluarga masih bisa dipenuhi sebagian dari penghasilan yang lain.

KEBAKARAN RUMAH, CACAT KARENA KECELAKAAN, TERKENA PENYAKIT KRITIS 

Hal-hal tersebut adalah musibah yang bisa kita hindari secara financial dengan asuransi. Tentu saja ada premi yang harus dibayarkan, akan tetapi besarnya premi yang di bayarkan relatif sangat kecil dibandingkan dengan manfaat yang akan kita terima saat musibah terjadi.

>>ASURANSI PROPERTI

Asuransi ini mengganti kerugian atas properti kita (rumah, apartemen, ruko,) apabila terjadi kebakaran, tersambar petir, kebanjiran. Nilainya agar relatif sangat murah, rasanya membuat kita perlu untuk memilikinya.

>>ASURANSI KECELAKAAN

Saat kita mengalami kecelakaan, dan menjadi cacat total sehingga tidak mampu lagi untuk mencari nafkah, maka asuransi ini akan memberikan sejumlah uang tertentu sesuai pertanggungannya. Dana yang diberikan, selain bisa digunakan untuk pangobatan akan bermanfaat sebagai dana yang bisa membiayai hidup kita karena tidak mampu bekerja lagi.

 >>ASURANSI PENYAKIT KRITIS

Dengan semakin meningkatnya kondisi penyakit kritis di masyarakat saat ini, asuransi ini menjadi cukup penting untuk dimiliki. Terutama apabila kita memiliki orangtua atau keluarga yang telah menderita jenis-jenis penyakit kritis ini, seperti kanker, jantung, tekanan darah tinggi. Besarnya biaya yang harus dikeluarkan apabila kita terkena penyakit kritis, tentu saja dapat langsung mengganggu keuangan keluarga.

>>ASURANSI KESEHATAN

Hampir seluruh perusahaan saat ini memberikan fasilitas kesehatan bagi pegawainya. Cobalah untuk mengetahui secara detail fasilitas yang akan kita terima. Besarnya fasilitas haruslah sesuai dengan kebutuhan kita. Kalau fasilitas yang diberikan kantor ternyata memiliki limit yang kecil, sebaiknya kita mulai mempertimbangkan untuk memiliki asuransi kesehatan tambahan.

DIPECAT DARI PEKERJAAN, ORANGTUA  ATAU ANGGOTA KELUARGA SAKIT KERAS

Untuk musibah ini, maka dana darurat adalah dana yang bisa digunakan. Dana darurat adalah dana yang wajib dimiliki oleh setiap orang baik sudah berkeluarga ataupun belum. Dalam keadaan darurat, maka tersedianya dana ini akan menyelamatkan keluarga kita dari menggunakan dana yang telah dialokasikan untuk dana pendidikan misalnnya atau dana pensiun keluarga. Tentu saja, besarnya dana ini disesuaikan dengan kondisi keluarga serta biaya bulanan keluarga. Berapa besarnya dana darurat yang disarankan untuk dimiliki?

 Perhitungan dana darurat

  • Single : minimal 3x pengeluaran bulanan
  • Keluarga tanpa anak : Minimal 6x pengeluaran bulanan
  • Keluarga dengan 2 anak atau lebih : Minimal 12 x pengeluaran bulanan

Contoh perhitungan :

Keluarga dengan 1 anak, pengeluaran bulanan sebesar Rp 15 juta

Kebutuhan dana darurat : 9 x pengeluaran : 9 x Rp 15 juta = Rp 135 juta

Apabila kia belum memiliki alokasi dana darurat saat ini, mulailah untuk mengalokasikannnya  minimal 3 x pengeluaran bulanan. Dan menambahnya baik dari tabungan bulanan ataupun bonus dan penghasilan lainnya.

Setiap hari kita selalu berdoa untuk diberikan kesehatan, keselamatan, kesejahteraan. Akan tetapi penting juga bagi kita untuk mencegah dan mempersiapkan diri menghadapi hal-hal terburuk. Mempersiapkannya bisa dengan cara asuransi, dana darurat ataupun bentuk keuangan lainnya. Jadi, buatlah rencana yang terbaik untuk hidup kita, tapi jangan lupa untuk mempersiapkan diri menghadapi hal terburuk yang mungkin terjadi. It’s about You, Your Money and Your Life.

 

Penulis : Tejasari CFP®

(artikel dimuat di majalah MORE Indonesia edisi Februari 2012)

Incoming search terms:

  • backup plan asuransi

Comments are closed.

WhatsApp chat