Kurban: Rencanakan Jauh-Jauh Hari

Hadis Ibnu Abbas Rasulullah bersabda: “Tiada sedekah uang yang lebih mulia daripada yang dibelanjakan untuk kurban di hari Raya Adha.”(H.R. Dar Qutni).

ilustrasifoto-kurban

Definisi “Bagi yang Mampu” 

Idul Adha sudah tiba dan muslim yang mampu bisa melaksanakan ibadah haji dan kurban. Khusus ibadah kurban, syaratnya adalah benar-benar mampu secara materi untuk membeli hewan sembelihan. Tentu saja, setelah kebutuhan hidup utama terpenuhi dan semua kewajiban telah lunas.

Kurban yang dilakukan Nabi Ibrahim dan Ismail tidak hanya mencerminkan ketaatan yang sempurna dari Nabi Ibrahim dan Siti Hajar serta Ismail yang tunduk kepada perintah Allah SWT. Kurban juga merupakan bentuk kepasrahan, keikhlasan, dan puncak dari cinta yang sempurna  terhadap Allah SWT. Pantaslah jika Allah mengganjar orang yang berkurban dengan limpahan cinta-Nya.

Kurban juga anjuran bagi masyarakat mampu agar mau menyisihkan uang dengan membeli hewan kurban dan membagikannya kepada masyarakat tidak mampu. Maka, tak salah bila kurban dianggap sebagai kepedulian, kebersamaan,  serta cinta orang kaya terhadap orang miskin.

Tapi, jangan lantas menyimpulkan kurban berlaku hanya untuk orang kaya. Di luar orang yang tidak mampu secara finansial, yaitu golongan fakir, miskin, dan orang-orang yang terlilit utang, semua tergantung niat, kok. Coba tanyakan kepada hati nurani, kita tidak mampu membeli kambing (khusus di Indonesia) seharga kira-kira Rp1,5 juta sekali setahun atau kita tidak mau dan tidak memampukan diri?

 Dahulukan Kewajiban

Hal terpenting dalam Islamic Financial Planning (IFP) adalah menetapkan prioritas. Dalam hal ini, kita terkadang bingung menentukan mana prioritas utama, cukup perlu, atau sekadar keinginan.

Dalam IFP, kita harus mengatur arus kas, di mana arus kas yang paling utama adalah mendahulukan kewajiban* seperti melunasi utang, zakat, dan memenuhi kebutuhan hidup yang utama, sunat, akikah, memberikan  pendidikan untuk anak, menikahkan anak, pergi haji, dan kurban. Pengeluaran dana ini lebih diprioritaskan dibandingkan memenuhi keinginan seperti makan di restoran, membeli barang bermerek, membeli gadget terbaru, jalan-jalan,dan lain-lain.

Sisihkan Jauh-Jauh Hari

Seandainya kita mau menyiapkan kurban jauh-jauh hari, misalnya setahun, maka nilai Rp1,3 juta – 4, 2 juta**. Jumlah ini setara dengan menyisihkan uang sebesar Rp109 ribu – Rp350 ribu per bulan.

Bagi  golongan menengah, fresh graduate, atau mereka yang berpenghasilan setara, jumlah ini tidak sulit dan tidak terlalu besar. Apalagi jika kita berkomitmen dan disiplin menyisihkan uang setiap bulan.

Malu, dong, dengan harga gadget-mu yang canggih atau harga tas yang mahal dan mewah atau ratusan ribu rupiah untuk pulsa namun tak bisa menyisihkan sebagian kecil rezeki untuk kurban.

4 Alternatif

Apa saja instrumen keuangan yang bisa dipakai dalam menyiapkan dana kurban ini dalam jangka waktu, misalnya setahun? Sebelumnya, pastikan instrumen yang dipakai bebas riba, maysir (judi), dan gharar (ketidakpastian), dan hal-hal yang dilarang dalam islam.

1.   Dana yang sudah ada bisa dikunci dengan dimasukkan ke  deposito bank syariah atau bank perkreditan rakyat syariah supaya kita tidak tergoda untuk memakainya.

Deposito juga bisa memberikan imbal hasil dan diputar kembali oleh lembaga tersebut untuk menggerakkan sektor perekonomian secara riil. Terlihat, kan, bahwa kurban sudah memiliki manfaat dalam bentuk yang berbeda.

2.   Jika ingin mencicil, gunakan instrumen tabungan syariah, emas, atau kombinasi keduanya.  Cara terakhir memang sedikit merepotkan, namun lebih “aman”.

3.   Membeli reksa dana pendapatan tetap syariah (RDPTs) setiap bulan. Tapi, RDPTs hanya disarankan bagi Anda yang mempunyai dana tunai yang cukup di masa depan jika  hasil “parkir dana”  di RDPTs tidak mencukupi untuk membeli hewan kurban. Ingat, Nilai Aktiva Bersih (NAB) RDPTs  juga bisa  turun.

 

IFP menjadikan berkurban lebih bermakna sebab kita menyisihkan uang untuk membeli hewan kurban dan bukan membeli hewan kurban dari sisa uang setelah kebutuhan terpenuhi (walaupun ini sah-sah saja, sepanjang niatnya karena Allah Swt). Salah satunya, memanfaatkan rezeki dengan berkurban, di mana kurban adalah wujud rasa syukur.

Sekali lagi, jangan berkecil hati bagi yang benar-benar belum mampu, karena Nabi Muhammad SAW pernah berkata, kaum muslim yang tidak mampu berkurban akan mendapat pahala layaknya orang berkurban dari umat nabi yang berkurban. Tapi ingat, tidak mampu tidak sama dengan tidak memampukan diri. Jadi mari kita memampukan diri untuk berkurban dan bersiap-siaplah menerima kejutan karena cinta dari Allah SWT kepada kita.

 * Ada pula ulama yang menghukumi akikah dengan sunah dan kurban dengan sunah muakad.
** Harga merupakan hasil survei penulis, baik membeli melalui pedagang kambing atau lewat lembaga tertentu yang disesuaikan dengan berat hewan tersebut.

Aprida, CFP.
Independent Financial Planner
Tatadana Consulting
www.tatadana.com

Masih khawatir dengan investasi dan rencana keuangan Anda?
Talk to our Planner:
Felicia Imansyah : 0816 484 2978
lici@tatadana.com
Aprida : 0821 2355 7919
aprida@tatadana.com

 

Comments are closed.

WhatsApp chat