Ketika saya masih bekerja di salah satu bank BUMN besar di Indonesia, saya merasa semua kebutuhan hidup sudah terpenuhi. Fasilitas yang diberikan sangat lengkap dan memberikan kenyamanan luar biasa. Dari jaminan kesehatan untuk keluarga sampai seumur hidup, kepastian pekerjaan yang tetap, Jamsostek hingga dana pensiun. Rasanya tidak diperlukan hal lain, yang penting fokus saja pada pekerjaan.

 

Tetapi, saya mulai merasakan hal-hal yang tidak wajar, karena seringnya pegawai yang sudah pensiun datang ke kantor. Banyak hal yang mereka ceritakan, termasuk kurangnya dana pensiun yang mereka terima. Waktu itu saya menganggapnya masih wajar, sebab semua orang kalau ditanya selalu tidak pernah merasa cukup dan merasa puas dengan apa yang mereka miliki. Ketika suatu hari, salah seorang pegawai meninggal muda, mulailah mata saya terbuka. Istrinya hanya menerima dana pensiun yang kecil sekali, pastinya tidak cukup untuk menghidupi dirinya dan dua anaknya yang masih sekolah. Barulah saya mulai berhitung, berapa sebenarnya dana pensiun yang akan saya terima? Apakah cukup ntuk memenuhi kebutuhan keluarga?

Tidak puas dengan angka yang muncul, sayapun tersadarkan. Selama ini, kita merasa puas dengan kondisi kantor akan memberikan dana pensiun hingga kita meninggal. Namun, cukup atau tidaknya untuk hidup nanti, tidak pernah ada yang membahasnya. Sampai akhirnya, para pensiunan tersebut menyadari bahwa mereka tidak bisa berbuat apa-apa lagi, hanya bisa memohon ke perusahaan untuk menaikkan dana pensiun mereka. Sangat tidak menyenangkan, bukan? Sementara, di masa pensiun kita ingin hidup nyaman, menikmati hasil kerja keras selama ini.

Saya kemudian mulai berhitung. Kalau pensiun, gaya hidup saya mau seperti apa? Berapa sebenarnya uang pensiun yang saya dapat dari kantor? Fasilitas apa saja yang masih saya terima setelah pensiun dan apakah cukup untuk memenuhi kebutuhan nanti? Semakin bertanya, semakin banyak angka yang muncul dan semakin menakutkan melihat jumlah uang yang saya harus tabung dari sekarang untuk menutupi kekurangannya. Saya baru sadar bahwa dana dan fasilitas pensiun tidak cukup memenuhi kebutuhan masa tua nanti. Menabung saja pun tidak cukup.

Sejak itulah, saya mulai berani untuk mengambil risiko dan memilih berinvestasi, misalnya reksadana atau saham. Mengapa harus demikian? Coba lihat iluistrasi di bawah ini :

Kalau saat ini umur kita 35 tahun dan ingin pensiun di usia 55, dengan biaya hidup Rp 5 juta perbulan, maka angka tersebut nantinya akan meningkat jadi Rp 33,7 juta. Untuk mencukupi hidup selama pensiun, total dibutuhkan biaya sebesar Rp 6,7 miliar (dengan asumsi inflasi 10%). Betapa banyaknya uang yang dibutuhkan, bukan? Coba cek dan bandingkan berapa yang Anda terima dari kantor saat Anda pensiun. Kalau hanya menabung, maka kita harus menyisihkan uang dari sekarang sampai usia 55 tahun sebesar Rp 28 juta per bulan. Tapi, jika berinvestasi kita hanya membutuhkan Rp 1 juta per bulan.

Jalan manakah yang akan Anda ambil? Beranikah Anda? Saya sendiri memilih untuk tidak takut berinvestasi dan mengambil risiko akan naik turunnya nilai investasi tersebut. Menabung saja tidak cukup dan saya tidak mau susah, saat pensiun. Masa tua adalah untuk dinikmati, bukannya memelas kesana-sini kepada anak, keluarga, atau tempat kerja sebelumnya, agar biaya hidup terpenuhi. Mari, jadi berani!

*teja

[artikel ini pernah dimuat dalam Majalah MORE, Edisi September 2010] {foto: photobucket.com/image/old peoples}

Comments are closed.

WhatsApp chat