Tanya : Dear Bu Teja. Bu, saya ingin berbisnis kuliner, tapi tidak tahu bagaimana memulainya. Selama ini saya sudah sering menerima pesanan kue atau makanan dari teman-teman kantor, karena saya memang hobi memasak. Banyak yang mengatakan masakan saya enak dan menyarankan supaya saya menekuninya dengan serius. Saya berpikir untuk membuat sebuah kedai kecil. Apa yang harus saya siapkan? Apa saja yang harus dipertimbangkan? Mohon sarannya.

Shinta – Jakarta

Jawab : Dear Shinta, Saya sangat setuju dengan teman-teman kantor Anda yang menyarankan untuk mulai serius dengan hobi memasak. Ketika ingin memulai bisnis, sangat disarankan untuk memulainya dari sesuatu yang disukai. Apalagi Shinta saat ini sudah sering menerima pesanan kue dan makanan. Dan terbukti, banyak orang yang suka dengan masakan Shinta.

Nah, ada beberapa hal yang perlu Shinta pertimbangkan ketika ingin membuat kedai kecil untuk menjual makanan :

1.     Siapa yang mengerjakan?

Saat ini Shinta bekerja di kantor, jadi pembuatan kue hanya bisa dilakukan setelah pulang kantor atau pada hari libur. Buat rencana bagaimana mengerjakan kue secara praktis disesuaikan dengan waktu kerja Shinta yang terbatas. Pastinya, memerlukan seorang asisten yang bisa mengerjakannya di hari-hari kerja. Sehingga meski sedang bekerja di kantor, tapi bisnis tetap bisa jalan.

Kalau Shinta memutuskan untuk keluar dari kantor dan full time berbisnis, mungkin belum memerlukan asisten karena semua masih bisa dikerjakan sendiri. Hanya yang perlu dipertimbangkan kalau Shinta memutuskan keluar dari kantor adalah, penghasilan di awal bisnis umumnya belum ada. Karenanya persiapkan dana untuk biaya hidup bulanan minimal 6 bulan, sampai bisnis berjalan baik dan bisa memberikan penghasilan yang cukup.

2.     Bagaimana rencana pemasarannya?

Pemasaran adalah salah satu hal yang perlu menjadi perhatian dalam pengembangan bisnis. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah :

  • Pangsa pasar. Kalau saat ini Shinta menjual makanan dan kue kepada teman-teman, artinya Shinta sudah memiliki pangsa pasar yang cukup baik. Tapi, apakah cukup hanya dengan menjual kepada teman? Nah, perhatikan pangsa yang ingin dikejar. Sesuaikan harga penjualan dengan pasar yang dibidik. Kalau harganya tidak sesuai, misalnya terlalu mahal, maka penjualan menjadi tidak baik.
  • Bagaimana cara memasarkan produk? Bisa dari mulut ke mulut, melalui media sosial, mencetak brosur, mengikuti bazar atau membagikan contoh kue dan makanan kepada calon pembeli. Sesuaikan jenis penawaran dengan budget yang tersedia. Yang paling murah tentu saja media sosial dan dari mulut ke mulut yang tidak berbiaya. Kalau ingin membagikan brosur atau mengikuti bazar yang berbayar, hitunglah seefektif mungkin manfaatnya bagi peningkatan penjualan.

3.     Berapa biaya yang dibutuhkan ?

Pertimbangan utama untuk memulai bisnis bagi kebanyakan orang adalah modal. Padahal sebenarnya modal bisnis bisa menyesuaikan dengan kondisi yang dipilih. Berikut beberapa contoh penghematan biaya yang bisa dilakukan agar modal bisnis bisa lebih efisien:

  • Lokasi. Apabila menyewa ruko atau kios untuk berjualan, otomatis biaya yang dibutuhkan cukup tinggi. Apalagi kalau sewanya hanya dibolehkan per tahun. Untuk awal bisnis, banyak orang yang menyiasatinya dengan berjualan dari rumah atau sharing tempat dengan usaha lainnya.
  • Perabot yang dibutuhkan. Peralatan pembuat kue dan alat-alat masak sangat beragam ukurannya. Mulailah dari yang sudah dimiliki saat ini, tidak perlu membeli yang ukurannya besar dan mahal. Yang penting sudah bisa membuat masakan dan kue dengan kapasitas produksi sesuai kemampuan. Apabila bisnis sudah berkembang, alokasikan dana untuk membeli peralatan dengan kapasitas yang lebih besar.
  • Asisten. Tidak harus asisten full time,  bisa mulai dengan memanfaatkan pembantu di rumah atau asisten part time agar lebih hemat. Tapi kalau Shinta tetap bekerja di kantor, maka memiliki asisten full time sangat diperlukan.
  • Biaya lainnya. Listrik, telepon, gas, air, tisu kue, plastik, dan sebagainya, yang menjadi kebutuhkan rutin setiap hari perlu dihitung dan dipisahkan dari pengeluaran rumah. Dengan cara ini bisa diketahui keuntungan bisnis secara riil.

Tiga poin diatas adalah hal-hal yang perlu dipertimbangkan untuk memulai bisnis. Saran saya, jangan takut untuk memulainya. Walaupun kecil, setidaknya sudah membuat satu langkah maju untuk keberhasilan. Selamat berbisnis Shinta, semoga sukses.

Tejasari, CFP®
Independent Financial Planner
Tatadana Consulting

Ingin berkonsultasi langsung? Hubungi Tatadana Consulting , Grha Toedjoeh Empat lantai 3 Jalan Wolter Monginsidi No. 15 Jakarta Selatan 12110, (02-723 5949), www.tatadana.com

Sumber : Kolom Tanya Jawab, Tabloid NOVA edisi NOVA 1353/XXVI

Comments are closed.

WhatsApp chat